Minggu, 15 Februari 2026

UNTUK MU SUJADU

 Pagi itu, kabut masih tipis membentuk halaman sekolah ketika guru tersebut melangkahkan kaki memasuki gerbang SDN 2 Sukajaya Malangbong Garut. Langkahnya pelan, tak seperti biasanya. Dua puluh tahun yang lalu, ia datang dengan langkah penuh semangat dan dada yang berdebar-debar. Hari ini, dada tetap berdebar—namun oleh rasa yang berbeda.

Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat. Bangunan sekolah itu menjadi saksi bagaimana seorang pendidik muda dengan idealisme sederhana tumbuh menjadi sosok guru yang matang oleh pengalaman. Ia masih ingat hari pertama mengajar. Ruang kelas dengan dinding yang kusam, bangku-bangku kayu yang mulai rapuh, dan membentuk anak-anak desa yang polos namun penuh harap. Ia datang dengan tekad: meski sekolah itu sederhana, mimpi anak-anak di dalamnya tidak boleh ikut sederhana.

Awal pengabdiannya tidak mudah. Gaji yang pas-pasan, jarak tempuh yang jauh, serta minimnya fasilitas sering menjadikannya harus berpikir keras. Suatu ketika, hujan deras mengguyur tanpa henti hingga atap ruang kelas bocor di sana-sini. Anak-anak terpaksa duduk berdesakan di sudut yang kering. Alih-alih mengeluh, guru tersebut menjadikan momen itu sebagai pelajaran tentang ketangguhan. Dengan suara tenang ia berkata, “Kalau hujan saja tidak menyerah turun ke bumi, masa kita menyerah belajar?”

Sejak saat itu, ia dikenal sebagai guru yang tidak hanya mengajar dengan buku, tetapi juga dengan hati.

Tahun-tahun berlalu. Ia mulai memikirkan perubahan besar untuk sekolah kecil itu. Ia percaya bahwa sekolah di pelosok pun bisa bersinar. Ia menghidupkan kembali kegiatan pramuka yang sempat mati suri. Dengan seragam cokelat yang kadang harus diperbaiki sendiri, anak-anak dilatih baris-berbaris, tali-temali, dan kedisiplinan. Banyak yang meremehkan, menganggap mustahil anak-anak dari sekolah desa mampu bersaing.

Namun perlahan, hasilnya terlihat. Untuk pertama kalinya, tim pramuka SDN 2 Sukajaya meraih juara tingkat kecamatan. Hari itu, guru tersebut berdiri di antara murid-muridnya yang memeluk piala kecil dengan mata berbinar. Ia menahan haru, tapi payudaranya terasa penuh. Seperti ada ruang di jantung yang akhirnya terisi.

Tak berhenti di sana, ia juga membentuk tim paskibra sekolah. Setiap sore, lapangan yang dulu sepi kini ramai oleh hentakan sepatu dan aba-aba tegas. Anak-anak yang dahulu pemalu berubah menjadi lebih percaya diri. Upacara 17 Agustus di kecamatan menjadi momen bersejarah ketika tim paskibra sekolahnya dipercaya menjadi pengibar bendera. Sang merah putih berkibar gagah, dan di sudut lapangan, guru tersebut menyeka sudut matanya diam-diam.

Ia pun mendorong kesenian tradisional tetap hidup. Anak-anak diajak belajar angklung dan tari daerah. Di sela kesibukan mengajar, ia melatih mereka dengan sabar. Bahkan ia pernah menggunakan sebagian tabungannya untuk membeli perlengkapan sederhana. Baginya, pendidikan bukan hanya soal angka di rapor, tetapi tentang membentuk karakter dan menjaga jati diri.

Bidang olahraga pun tak luput dari perhatiannya. Ia melatih sepak bola dan atletik dengan peralatan seadanya. Lapangan tanah menjadi saksi keringat, jatuh bangun, dan tawa anak-anak. Hasilnya kembali memuaskan—juara lomba lari tingkat kabupaten. Nama sekolah kecil itu perlahan mulai dikenal.

Namun dibalik semua pencapaian itu, tidak sedikit duka yang ia rasakan. Ia pernah kehilangan seorang murid yang terpaksa putus sekolah karena faktor ekonomi. Ia pernah menghadapi orang tua yang belum memahami pentingnya pendidikan. Ia juga pernah merasa lelah, sangat lelah, ketika usaha yang ia lakukan tak segera membuahkan hasil. Ada malam-malam ketika ia termenung sendiri, bertanya dalam hati, “Apakah semua ini sepadan?”

Jawabannya selalu datang keesokan pagi, lewat senyum tulus anak-anak yang menyambutnya di gerbang sekolah.

Kini, dua puluh tahun telah berlalu. Rambutnya mulai memutih di beberapa bagian. Wajahnya menunjukkan garis-garis kelelahan sekaligus kebahagiaan. Di ruang guru, surat keputusan itu diletakkan di atas meja: ia dipindahkan ke sekolah lain. Sebuah amanah baru, kata sebagian orang. Sebuah kepercayaan dari atasan.

Namun bagi guru tersebut, rasanya seperti harus meninggalkan rumahnya sendiri.

Hari perpisahan pun tiba. Halaman sekolah dipenuhi siswa, guru, dan orang tua. Spanduk sederhana terbentang sebagai ungkapan terima kasih. Anak-anak berdiri tegak dengan cepat, tetapi banyak di antara mereka yang sudah tak mampu menahan tangis.

Kepala sekolah menyampaikan berbagai hal, mengulas dedikasi dan inovasi yang telah mengubah wajah sekolah. Tentang bagaimana pramuka kembali hidup, paskibra menjadi kebanggaan, kesenian berkembang, dan olahraga menorehkan prestasi. Semua itu berawal dari ketekunan seorang guru yang tak pernah lelah bermimpi.

Ketika mikrofon diberikan kepadanya, suasana tiba-tiba hening.

Guru tersebut memandang wajah-wajah kecil di hadapannya. Wajah-wajah yang selama ini menjadi alasan ia bangun sebelum matahari terbit. Suaranya sempat tercekat sebelum akhirnya ia berbicara pelan, "Saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru yang hebat. Saya hanya ingin menjadi guru yang berarti."

Tangis pecah di barisan depan. Seorang siswi yang dulu ia latih menari maju dan memeluknya erat. “Jangan pindah… kami masih ingin belajar bersama,” ucapnya sambil terisak.

Ia memejamkan mata. Ia ingin tegar, tetapi jantungnya terasa rapuh. Ia teringat setiap sudut sekolah itu: ruang kelas tempat ia pertama kali berdiri sebagai guru, lapangan tempat anak-anak berlatih hingga senja, ruang pramuka yang penuh cerita dan tawa. Semua kenangan berkelebat begitu cepat.

Ia sadar, perpindahan ini akhir bukan dari pengabdian. Di tempat baru, dia mungkin harus memulai lagi dari awal. Namun meninggalkan sekolah yang telah menjadi bagian dari jiwa bukanlah perkara mudah.

Satu per satu murid menyalaminya. Ada yang memberikan surat kecil berisi ucapan terima kasih dan doa. Ada yang hanya menggenggam tangan erat tanpa kata. Rekan-rekan guru memeluknya penuh haru, mencoba menyimpan kenangan dalam diam.

Ketika kendaraan yang akan dibawa pergi mulai bergerak, anak-anak berlarian kecil hingga ke pagar. Mereka menampilkan tangan, sebagian memanggil namanya dengan suara bergetar. Guru tersebut menurunkan kaca jendela dan membalas lambaian itu dengan senyum yang ia paksa tetap tegar.

Namun begitu kendaraan berbelok meninggalkan halaman sekolah, air mata itu akhirnya tanpa jatuh bisa ditahan.

Ia mungkin tidak akan pernah tercatat dalam buku sejarah. Namanya mungkin tidak dikenal secara luas. Tetapi di hati ratusan anak yang pernah terbuka, ia telah menanamkan keberanian, disiplin, kreativitas, dan mimpi.

Inovasi dan semangat yang ia tanamkan di SDN 2 Sukajaya Malangbong Garut akan terus berkembang, bahkan setelah ia pergi. Prestasi-prestasi yang diraih bukan sekadar piala, melainkan bukti bahwa kerja keras dan cinta pada pendidikan mampu mengubah keadaan.

Dan di dalam hati, meski terasa perih, terselip rasa syukur yang mendalam. Karena selama dua puluh tahun, ia tidak hanya mengajar. Ia telah hidup, tumbuh, dan menjadi bagian dari perjalanan sebuah sekolah kecil yang kini berdiri lebih tegak.

Guru tersebut menatap ke depan, menguatkan hati untuk babak baru pengabdiannya.

Alasannya menjadi guru bukan tentang bagaimana ia mengajar, melainkan tentang seberapa cerdas ia menyalakan cahaya di hati anak-anak. Dan cahaya itu, di SDN 2 Sukajaya Malangbong Garut, akan selalu menyala.


Oleh Agus Supriadi, M.Pd.

1 komentar:

UNTUK MU SUJADU

 Pagi itu, kabut masih tipis membentuk halaman sekolah ketika guru tersebut melangkahkan kaki memasuki gerbang SDN 2 Sukajaya Malangbong Gar...